BAB
I
PENDAHULUAN
PENDIDIKAN
ANAK MENURUT SURAT AL-LUQMAN AYAT 13-17
A. Latar
Belakang
Membina akhlak
merupakan bagian yang sangat penting dalam tujuan Pendidikan, baik itu berupa
pendidikan agama maupun pendidikan yang umum, untuk mengembangkan potensi umat agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Disamping itu, banyaknya
tindak kriminal yang dilakukan para remaja disinyalir sebagai akibat dari tidak
berhasilnya Pembinaan Akhlaq dan Budi Pekerti pada siswa. Kegagalam pembina
akhlaq akan menimbulkan masalah yang sangat besar, bukan saja pada kehidupan
bangsa saat ini tetapi juga masa yang akan datang.
Untuk itu harus ada
upaya pembinaan terhadap anak di sekolah ataupun di luar sekolah, baik itu oleh
orang tua atau guru sebagai pendidik, Upaya tersebut agar dilakukan dalam
hubungan kerjasama yang harmonis, baik memalui pendidikan dalam keluarga maupun
pendidikan (pembinaan mental) yang ada di masyarakat. Namun pada kenyataannya terlihat,
tidak sedikit kendala untuk mewujudkan kerjasama semacam itu baik dikarenakan
tingkatan pendidikan orang tua yang rendah, kesibukan orang tua, maupun
linkungan masyarakat yang kurang menunjang. Disamping banyaknya, orang tua yang
apriori terhadap pendidikan anak, bahkan ada orang tua yang tersinggung ketika
menerima laporan mengenai keburukan tingkah laku anaknya, Terlepas dari permasalahan
diatas, peneliti ingin mencari gambaran yang kongkrit dan akurat mengenai
manfaat peran serta tokoh masyarakat dan Guru pendidikan Agama Islam dalam
membina akhlaq seorang anak sehingga dapat memberikan kontribusi bagi
keberhasilan pendidikan itu sendiri.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar
belakang masalah diatas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut
:
1.
Bagaimana program bimbingan orang tua dan guru dalam membina anak?
2.
Apa-apa saja yang menjadi kendala dari orang tua dan guru dalam
membina akhlak dari anak?
3.
Bagaimana orang tua dan guru dalam mengatasi permasalahan anak?
C.Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian
diarahkan kepada peran serta orang tua, lingkungan masyarakat dan Guru
Pendidikan baik itu umum maupun Agama Islam dalam membina akhlak anak.
Sejalan dengan permasalahan
tersebut diatas maka secara khusus tujuan penelitian yaitu :
1.
Untuk mengetahui program bimbingan orang tua dan guru dalam
membina anak
2.
Untuk mengetahui kendala
dari orang tua dan guru dalam membina akhlak dari anak
3.
Untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan
BAB II
METODE PENELITIAN / KERANGKA
BERPIKIR
A.jenis
penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library
research), yaitu penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber
kepustakaan lain. Maksudnya, data dicari dan ditemukan melalui kajian pustaka
dari buku-buku yang relevan dengan pembahasan.
Kegiatan studi termasuk kategori penelitian kualitatif dengan prosedur kegiatan dan teknik penyajian finalnya secara deskriptif. Maksudnya, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang cara mendidik anak.
Kegiatan studi termasuk kategori penelitian kualitatif dengan prosedur kegiatan dan teknik penyajian finalnya secara deskriptif. Maksudnya, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang cara mendidik anak.
b. Kerangka Berpikir
øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ $uZø¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷yÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) çÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»t !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5Ayöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù't $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ×Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di
waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar.
14. dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya
telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu
tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya
di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.
16. (Luqman berkata):
"Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi,
dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus, lagi Maha
mengetahui.
17. Hai anakku,
dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah
(mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa
kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh
Allah).
Ibnu Katsir Rah.a, telah mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa luqman
berpesan kepada putranya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling
berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah,
luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata,
tidak mempersekutukan-Nya sesuatu apapun seraya memperingati kepadanya: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar"[1] (Luqman berkata):
"Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi,
dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan
mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
mengetahui.
Ibnu Katsir Rah.a,
juga mengatakan bahwa seandainya amal sekecil dzarrah itu dibentengi dan
ditutupi berada didalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di
kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah pasti akan membalas-Nya.
Demikianlah karena sesungguhnya Allah tiada sesuatupun yang tersembunyi
bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada dilangit maupun dibumi,
terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah, Luqman terus-menerus
memberikan pengarahan kepada putranya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan
oleh firman-Nya:[2]
¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).
Ibnu Katsir
mengatakan dalam kitab tafsirnya: “Aqimish shalaata”, dirikanlah shalat,
lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. Wa’mur bil
ma’rufi wanha ‘anil mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan cegahlah
perkara yang mungkar menurut batasan kemampuan dan jerih payahmu, karena
sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahi munkar, pelakunya pasti
akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itulah, dalam pesan
selanjutnya Luqman memerintahkan kepada putranya untuk bersabar. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari
manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.
Ash-Sha’r artinya
berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau
bagian kepalanya sehingga persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian
diserupakanlah dengan seorang lelaki yang bersikap sombong.
Ibnu Katsir
mengatakan: “Janganlah engkau bersikap sombong dengan dengan meremehkan
hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara
denganmu. Dalam sebuah hadits:
كُلُّ صَعَّارٍ مَلْعُوْنٌ
“Setiap orang yang
sombong itu terkutuk.”
As-Sha’ar, adalah orang yang sombong,
karena dia hanya memperlihatkan pipinya dan memalingkan wajahnya dari orang
lain. (An-Nihayah, Ibnul Atsir, bab Sha’ara).[3]
Pengajaran yang
diabadikan Al-qur’an setelah dalam ayat sebelumnya Al-qur’an menegaskan bahwa
sebagian dari hikmah yang dianugerahkan kepada Luqman itu adalah perintah untuk
bersyukur atas nikmat-Nya. Tentu saja salah satu nikmat tersebut adalah
anaknya, dan mensyukuri kehadiran anak adalah dengan mendidiknya.[4]
Telah dibahas diatas
tentang bagaimana cara Luqman mendidik anaknya dengan sangat hati-hati sekali
dan menasehatinya dikala anaknya lalai dalam kesehariannya. Dibuktikan pada
ayat 13 disebutkan bahwasanya Luqman memberikan pelajaran kepada anaknya agar tidak
memepersekutukan Allah swt, Dialah yang Maha Esa, Maha Agung, pencipta seluruh
alam raya ini beserta isinya yang patut disembah, sebegaimana tertera dala Q.S
Al-Ikhlas: 1-4
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#t öNs9ur ôs9qã ÇÌÈ öNs9ur `ä3t ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan
tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun
yang setara dengan Dia.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama Republik Indonesia.
1990. Al-Qur’an Dan Terjemahnya.
Jakarta: t.p.
Kasbullah, Kasihani. "Studi
kepustakaan", artikel Forum Penelitian
Abdullah. 2004. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6. Jakarta: Pustaka
Imam Asy-Syafi’i
Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur'an (Bandung; Mizan,
1999)
http://santri-ppmu.blogspot.com/contoh-proposal-penelitian-pustaka.html di akses tanggal 10 juni 2012 pukul 12:42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar