Selasa, 19 Juni 2012

contoh makalah metodologi penelitian


BAB I
PENDAHULUAN

PENDIDIKAN ANAK MENURUT SURAT AL-LUQMAN AYAT 13-17

A.    Latar Belakang
Membina akhlak merupakan bagian yang sangat penting dalam tujuan Pendidikan, baik itu berupa pendidikan agama maupun pendidikan yang umum, untuk mengembangkan potensi umat agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Disamping itu, banyaknya tindak kriminal yang dilakukan para remaja disinyalir sebagai akibat dari tidak berhasilnya Pembinaan Akhlaq dan Budi Pekerti pada siswa. Kegagalam pembina akhlaq akan menimbulkan masalah yang sangat besar, bukan saja pada kehidupan bangsa saat ini tetapi juga masa yang akan datang.
Untuk itu harus ada upaya pembinaan terhadap anak di sekolah ataupun di luar sekolah, baik itu oleh orang tua atau guru sebagai pendidik, Upaya tersebut agar dilakukan dalam hubungan kerjasama yang harmonis, baik memalui pendidikan dalam keluarga maupun pendidikan (pembinaan mental) yang ada di masyarakat. Namun pada kenyataannya terlihat, tidak sedikit kendala untuk mewujudkan kerjasama semacam itu baik dikarenakan tingkatan pendidikan orang tua yang rendah, kesibukan orang tua, maupun linkungan masyarakat yang kurang menunjang. Disamping banyaknya, orang tua yang apriori terhadap pendidikan anak, bahkan ada orang tua yang tersinggung ketika menerima laporan mengenai keburukan tingkah laku anaknya, Terlepas dari permasalahan diatas, peneliti ingin mencari gambaran yang kongkrit dan akurat mengenai manfaat peran serta tokoh masyarakat dan Guru pendidikan Agama Islam dalam membina akhlaq seorang anak sehingga dapat memberikan kontribusi bagi keberhasilan pendidikan itu sendiri.


B.Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah diatas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana program bimbingan orang tua dan guru dalam membina anak?
2.      Apa-apa saja yang menjadi kendala dari orang tua dan guru dalam membina akhlak dari anak?
3.      Bagaimana orang tua dan guru dalam mengatasi permasalahan anak?
C.Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian diarahkan kepada peran serta orang tua, lingkungan masyarakat dan Guru Pendidikan baik itu umum maupun Agama Islam dalam membina akhlak anak.
Sejalan dengan permasalahan tersebut diatas maka secara khusus tujuan penelitian yaitu :
1.      Untuk mengetahui program bimbingan orang tua dan guru dalam membina anak
2.      Untuk  mengetahui kendala dari orang tua dan guru dalam membina akhlak dari anak
3.      Untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan











BAB II
METODE PENELITIAN / KERANGKA BERPIKIR
A.jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan lain. Maksudnya, data dicari dan ditemukan melalui kajian pustaka dari buku-buku yang relevan dengan pembahasan.
Kegiatan studi termasuk kategori penelitian kualitatif dengan prosedur kegiatan dan teknik penyajian finalnya secara deskriptif.  Maksudnya, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran utuh dan jelas tentang cara mendidik anak.

b. Kerangka Berpikir                
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ   bÎ)ur š#yyg»y_ #n?tã br& šÍô±è@ Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ   ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ   ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ  
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus, lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Ibnu Katsir Rah.a, telah mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa luqman berpesan kepada putranya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah, luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya sesuatu apapun seraya memperingati kepadanya: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar"[1] (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
Ibnu Katsir Rah.a, juga mengatakan bahwa seandainya amal sekecil dzarrah itu dibentengi dan ditutupi berada didalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah pasti akan membalas-Nya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah tiada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada dilangit maupun dibumi, terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah, Luqman terus-menerus memberikan pengarahan kepada putranya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan oleh firman-Nya:[2]
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ  
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya: “Aqimish shalaata”, dirikanlah shalat, lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. Wa’mur bil ma’rufi wanha ‘anil mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan cegahlah perkara yang mungkar menurut batasan kemampuan dan jerih payahmu, karena sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahi munkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itulah, dalam pesan selanjutnya Luqman memerintahkan kepada putranya untuk bersabar. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ash-Sha’r artinya berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengan seorang lelaki yang bersikap sombong.

Ibnu Katsir mengatakan: “Janganlah engkau bersikap sombong dengan dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara denganmu. Dalam sebuah hadits:
كُلُّ صَعَّارٍ مَلْعُوْنٌ
“Setiap orang yang sombong itu terkutuk.”
As-Sha’ar, adalah orang yang sombong, karena dia hanya memperlihatkan pipinya dan memalingkan wajahnya dari orang lain. (An-Nihayah, Ibnul Atsir, bab Sha’ara).[3]
Pengajaran yang diabadikan Al-qur’an setelah dalam ayat sebelumnya Al-qur’an menegaskan bahwa sebagian dari hikmah yang dianugerahkan kepada Luqman itu adalah perintah untuk bersyukur atas nikmat-Nya. Tentu saja salah satu nikmat tersebut adalah anaknya, dan mensyukuri kehadiran anak adalah dengan mendidiknya.[4]

Telah dibahas diatas tentang bagaimana cara Luqman mendidik anaknya dengan sangat hati-hati sekali dan menasehatinya dikala anaknya lalai dalam kesehariannya. Dibuktikan pada ayat 13 disebutkan bahwasanya Luqman memberikan pelajaran kepada anaknya agar tidak memepersekutukan Allah swt, Dialah yang Maha Esa, Maha Agung, pencipta seluruh alam raya ini beserta isinya yang patut disembah, sebegaimana tertera dala Q.S Al-Ikhlas: 1-4
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ  
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.














DAFTAR PUSTAKA


Departemen Agama Republik Indonesia. 1990. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Jakarta: t.p.
Kasbullah, Kasihani. "Studi kepustakaan", artikel Forum Penelitian
Abdullah. 2004. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Secercah Cahaya Ilahi; Hidup Bersama Al-Qur'an (Bandung; Mizan, 1999)












[1] Bukhari, Kitab Ahaditsil Al-Anbiya, hal 3110.
[2] Abdullah. 2004. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.hal 105-106
[3] M.quraish shihab. 2000. Secercah cahaya ilahi. Bandung : PT Mizan pustaka. Hal 95
[4] Ibid hal 96